Arsitektur, antara kreativitas dan batasan

“Bu, kenapa sih, seni itu harus dibatasi? Kan kita jadi nggak bisa kreatif mengeluarkan ide-ide kita?” tanya seorang mahasiswa dengan nada sedikit memprotes, ”Padahal sebagai calon arsitek kita harus kreatif kan? Kalo dibatas-batasi, gimana karya kita bisa bagus jadinya??” lanjutnya lagi.

Saat itu, topik pembahasan ’Arsitektur dan Kebudayaan’ yang disampaikan di perkuliahan rupanya berkembang menjadi diskusi yang cukup hangat antara saya dan para mahasiswa. Banyak hal kami bahas, terutama mengenai keterkaitan peradaban dan arsitektur, perbedaan filosofi Timur dan Barat, perkembangan worldview bangsa-bangsa di dunia, sampai pada keterkaitan dan jalinan empat instrumen dalam diri manusia (iman, akal, rasa dan hati) untuk memahami kebenaran. Saya jelaskan bahwa keilmuan, apapun bentuknya, tidak dapat benar-benar terlepas dari iman dan etika, juga estetika, walaupun instrumen utama yang banyak digunakan dalam keilmuan manusia adalah akal. Karenanya, saat ini muncul ilmu bioetika dan sejenisnya yang mengkaji keterkaitan ilmu dan etika. Begitu pula dengan seni yang tidak dapat bergerak semaunya tanpa batasan etika, seperti yang akhir-akhir ini ramai dibahas di media massa. Saat itulah tercetus pertanyaan spontan dari salah satu mahasiswa yang cukup aktif dan kritis sepanjang perkuliahan.

Continue reading Arsitektur, antara kreativitas dan batasan

Arsitektur dan Preservasi Memori dalam Museum dan Memorial

Kasus: Memorial dan Museum Holocaust

Di tengah kontroversi yang terjadi di dunia mengenai valid tidaknya peristiwa Holocaust yang menimpa bangsa Yahudi, mereka memandang bahwa pemeliharaan terhadap keberlanjutan memori kolektif akan peristiwa itu di dalam hati dan pikiran masyarakat Yahudi generasi selanjutnya sangat penting. Hal ini menjadi sangat urgen bagi keberlanjutan usaha mendirikan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina. Pemeliharaan memori tentang Holocaust lebih dari sebuah penghargaan dan peringatan yang ditujukan bagi para korban Holocaust itu sendiri. Secara sangat eksplisit usaha ini bertujuan untuk menjaga Holocaust agar tetap hidup, sebagai bagian penting dari narasi tentang sebuah negara yang bernama Israel.

Salah satu cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan untuk menjaga kesinambungan memori kolektif akan peristiwa Holocaust itu adalah dengan pendirian banyak memorial dan museum di banyak negara. Salah satu dari kompleks bangunan yang didirikan dengan tujuan ini adalah Yad Vashem, sebuah Otoritas Peringatan bagi para pahlawan dan korban peristiwa Holocaust yang didirikan di tahun 1953 oleh Parlemen Israel untuk memperingati peristiwa pembunuhan bangsa Yahudi oleh Nazi.

Dalam bagian pembahasan, penulis memaparkan secara singkat peristiwa Holocaust dan bagaimana pengaruhnya terhadap berdirinya negara Israel di Palestina. Pembahasan singkat ini menjelaskan apa yang menjadi latar belakang pentingnya pemeliharaan memori mengenai peristiwa ini bagi bangsa Israel, yang dihadirkan, salah satunya dalam bentuk arsitektur. Pembahasan selanjutnya lebih memperinci tentang bagaimana memori tentang peristiwa itu diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk arsitektural.

Bagian akhir kajian berisi kesimpulan singkat mengenai usaha penerjemahan, pembangkitan dan pemeliharaan memori tentang Holocaust di dalam kompleks bangunan Yad Vashem, Yerusalem. Kedua obyek arsitektural yang telah dipaparkan dalam bagian sebelumnya, the Valley of the Community dan the International School for Holocaust Studies merepresentasikan sebuah peristiwa yang sama dengan persepsi yang berbeda. Perbedaan tampak pada tingkatan makna yang digunakan untuk menghadirkan memori kolektif di dalam benak pengunjungnya. Namun demikian, keduanya sama-sama menunjukkan arti penting arsitektur sebagai pemberi bentuk bagi sebuah narasi sejarah yang sangat mungkin dilupakan oleh generasi selanjutnya, akibat keterbatasan memori dan jauhnya jarak waktu dan geografis yang terbentang dengan peristiwa sebenarnya.

Sedikit tentang konsep seni islami dan operasionalisasinya dalam arsitektur

Al-Faruqi menyebutkan enam karakteristik seni islami: abstraksi, struktur modular, kombinasi suksesif, repetisi, dinamisme, dan kompleksitas. Beliau menyimpulkan karakteristik2 tersebut setelah melakukan studi ekstensif thd hasil2 kesenian di berbagai wilayah muslim. Dan karakteristik2 tersebut pada derajat tertentu menurut beliau memang mengejewantahkan pandangan hidup kaum muslim.

Apa yang sering keliru kita tangkap adalah kita menangkap sebatas bentuk fisiknya, sehingga kita beranggapan jika tidak mengandung keenam ciri tersebut, misalnya tak ada repetisi, maka tidak islami. Padahal, bukan demikian yang dimaksudkan. Repetisi mengejewantahkan prinsip keteraturan, ketertiban, namun keteraturan tidak hanya dapat direpresentasikan melalui repetisi. Satu prinsip pada tataran konseptual dapat diwujudkan dengan berbagai cara pada tataran operasional.

Selanjutnya, kita juga senang mengambil mentah2 bentuk2 fisik tersebut, tanpa berupaya mengembangkan bentuk2 baru berdasarkan karakter atau prinsip yang sama. Inilah salah satu penyebab sebuah aliran seni menjadi kurang berkembang setelah masa kejayaannya.

Selebihnya, kita sering lupa bahwa batik, ukiran, pahatan dan bentuk2 seni setempat juga dapat mengandung prinsip yang islami, dan untuk itu bisa kita kembangkan dan kolaborasikan dengan bentuk2 lain seni islami yang telah dikenal luas. Dikombinasikan, bukan dipertentangkan. Seperti beberapa masjid wali yang menanam keramik dari China di dinding2nya, kombinasi unsur setempat dan unsur eksternal memperkaya arsitektur masjid.

Adanya kelapangan, keseimbangan, fleksibilitas dalam permasalahan2 duniawi tanpa melanggar prinsip2 yang asasi sesungguhnya membuka ruang pengembangan yang sangat besar bagi seni islami. Lagipula, kreativitas adalah kemampuan berbuat di tengah batasan, bukan tanpa batasan.

kenapa DAI?

Kenapa mata kuliah inti (core) di Arsitektur UIN Maliki dinamai “Desain Arsitektur Islami”?

Pertama, jelas kami tidak mengajarkan mendesain rumah bordil, klub malam, dan sejenisnya.

Kedua, karena nilai-nilai Islam itu komprehensif, menyeluruh, dan tinggi. Sebagai sebuah pendekatan rancang, ia perlu dinyatakan. Sama seperti “green architecture”, “inclusive architecture”, dll yang menyatakan dirinya tanpa inferiority complex.

Karena sebagai value-based design (bukan style-based design), desain arsitektur islami mungkin punya irisan dan kemiripan dengan pendekatan-pendekatan desain yang lain, tapi tetap punya perbedaan-perbedaan mendasar yang penting untuk disadari. Misalnya, “green” tak selalu islami kalau tak mempertimbangkan interaksi dengan tetangga, atau “inclusive” tak selalu islami kalau tak mengenal batasan privasi. Karena itu, nilai-nilai Islam hadir sebagai inspirasi yg dapat dikombinasikan dengan pendekatan-pendekatan lain, sekaligus sebagai filter dan koridor untuk aspek-aspek rancangan yang kurang sesuai atau kurang dipertimbangkan di dalam pendekatan yg lain.

Lagi pula, kita punya khasanah keilmuan Islam, seperti ilmu Fikih, ilmu Kalam, ilmu Tasawuf, ilmu Ushul Fikih, ilmu-ilmu al-Qur’an, dsb yang sangat kaya sebagai inspirasi sekaligus koridor dalam berbagai aspek desain.

Ketiga, desain arsitektur islami disingkat DAI, intinya kami ingin para arsitek muslim jadi da’i yang berdakwah lewat karya #hasik

kenapa hand drawing?

kenapa hand drawing diajarkan sebelum komputasi arsitektur?

hand drawing menghubungkan tangan tidak hanya dengan otak, tetapi juga dengan hati.. ia mengajarkanmu kesabaran, bukan hanya kemudahan…

hand drawing mengajarkanmu kejujuran dan keistimewaan, karena karakteristik tarikan setiap garismu berbeda dengan kawan-kawanmu…

hand drawing mengajarkanmu ketekunan dan kecermatan, karena kekeliruan setarik garis tak mudah dihapus hanya dengan tombol delete dan undo…

hand drawing ajarkanmu mempertimbangkan segala hal sebelum menggoreskan tinta, bahwa kekeliruan dalam hidup kadang terjadi karena keliru merencanakan…

Perubahan Paradigmatik Dunia Keilmuan

Perubahan adalah salah satu tema sentral dalam pembahasan mengenai perkembangan ilmu pengetahuan umat manusia. Pencarian tentang kebenaran dengan segala konsekuensinya telah menghadapkan manusia pada kenyataan bahwa mereka hidup di sebuah dunia yang senantiasa berubah. Terkadang perubahan itu terjadi secara cepat dan mengejutkan, namun di lain waktu perubahan yang terjadi bersifat perlahan dan dapat diprediksi. Di banyak kesempatan, berbagai perubahan kecil ikut menandai perjalanan peradaban manusia. Namun, di beberapa momentum perubahan-perubahan besar justru menjadi penentu arah perjalanan sejarah dan peradaban manusia di muka bumi.

Beberapa perubahan mendasar yang terjadi di dalam dunia keilmuan selama ini tampaknya memiliki keterkaitan erat dengan perubahan cara pandang manusia mengenai hal-hal mendasar di dalam hidup. Perubahan cara pandang ini dapat disebabkan oleh banyak hal, di antaranya adalah peristiwa-peristiwa besar yang melibatkan faktor-faktor sosial, politik, ekonomi, kepercayaan, dan budaya, yang membuat umat manusia mulai merenungkan lagi hal-hal mendasar di dalam hidupnya. Trauma mendalam masyarakat Barat terhadap agama akibat penyimpangan praktek keagamaan tertentu di abad pertengahan yang berakibat pada diceraikannya aspek-aspek metafisika dari dunia keilmuan merupakan salah satu contohnya. Sebaliknya, penemuan-penemuan yang terjadi di dunia keilmuan juga mampu mengubah cara pandang manusia terhadap hidup dan kehidupannya di dunia. Misalnya, penemuan tentang berbagai reaksi kimia di dalam tubuh makhluk hidup dapat membawa manusia kepada paham reduksionistik bahwa makhluk hidup tidak lebih dari sekumpulan reaksi kimia dan fisika belaka. Tangis manusia dipandang tak lebih dari pengaruh hormonal, dengan air mata sebagai hasil buangan dari reaksi tertentu di dalam kelopak mata. Continue reading Perubahan Paradigmatik Dunia Keilmuan

Manusia dan Kebenaran

Ada sesuatu yang sangat istimewa tentang kebenaran di dalam sejarah pemikiran umat manusia. Konsep tentang kebenaran mungkin telah mengalami berbagai perkembangan, mulai dari masa Yunani Kuno dengan sophismenya, hingga masa Post-Modern dengan relativismenya. Namun, berbagai upaya epik yang terjadi di dunia selama ini, sesungguhnya terjadi dalam rangka menemukan kebenaran. Sepanjang sejarah, para filosof, saintis, seniman, budayawan, dan siapa saja yang disebut manusia, selalu mencoba menemukan dan merumuskan kebenaran dengan cara dan jalannya masing-masing. Hasilnya, betapapun terkadang jauh dari sesuatu yang disebut benar, ternyata mampu mengubah dunia menjadi dunia seperti yang kita miliki hari ini. Dengan berbagai ilmu pengetahuan, filsafat, seni, dan budaya yang terus berkembang, setidaknya kita tahu, betapa berharganya sesuatu yang bernama kebenaran itu.

Selanjutnya, kebenaran juga unik karena disadari ataupun tidak, bahkan seorang yang tak percaya akan keberadaan Tuhan pun masih percaya akan kebenaran. Seorang atheis, betapapun ia membatasi konsep kebenaran di dalam dirinya hanya pada yang terindera, tetap percaya bahwa keyakinannya tentang ketiadaan Tuhan itu benar adanya. Ia pun tetap percaya bahwa ada kebenaran universal yang menjadikan dunia mampu bertahan dari kehancuran hingga detik ini. Jika tak ada kebenaran yang dijaga bersama oleh umat manusia, maka dunia akan hancur oleh perbuatan-perbuatan segelintir manusia yang keliru dan merusak. Hal ini dikarenakan, setiap manusia secara fitrah senang menemukan kebenaran, dan tidak menyukai terjadinya sesuatu yang menurutnya salah atau keliru. Bahkan pencuri pun tak senang jika rumahnya kecurian, dan pembunuh pun tak senang jika keluarganya dibunuh orang lain. Ada nilai-nilai kebenaran universal yang menjaga dunia tetap bertahan di tengah berbagai upaya merusaknya. Continue reading Manusia dan Kebenaran

Masjid Nusantara dan Peradaban Ilmu

Masjid Kaliwulu, Cirebon

Peradaban adalah satu kata yang sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Begitu akrabnya dengan istilah ini, kita menggunakannya untuk berbagai maksud tanpa sempat lagi merenungi makna mendasar di balik kata peradaban. Seiring berjalannya waktu, peradaban sering kali diidentikkan dengan kemajuan dan hasil-hasil pencapaian fisik dari sebuah bangsa atau kebudayaan. Jika kita menyebutkan Peradaban Mesir, maka yang terbayang dengan segera adalah Piramida Gyza, Kuil Luxor, atau Istana Ratu Hatshepsut yang dipahat di tebing batu. Sementara itu, The Great Stupa di Sanchī dan Taj Mahal menjadi simbol peradaban India. The Forbidden City (Kota Terlarang) di Beijing dan The Great Wall menjadi penanda kemajuan peradaban China. Tak kalah megah, Acropolis di Athena dan Colosseum di Roma pun menjadi bukti kemajuan peradaban Yunani dan Romawi.

Pemahaman semacam ini dapat dimengerti, karena pencapaian-pencapaian fisik di dalam setiap peradaban memang merupakan elemen yang paling mudah dilihat dan diingat. Walaupun demikian, pemahaman tersebut sangat terbatas dalam mendefinisikan keluasan dan kedalaman makna yang dikandung oleh istilah peradaban. Pemahaman itu juga dapat menjadi permasalahan jika berimbas pada penarikan kesimpulan, bahwa bangsa atau kebudayaan yang tak meninggalkan bukti-bukti pencapaian fisik yang megah dan monumental adalah bangsa yang tak memiliki peradaban tinggi. Paham materialisme semacam ini, disadari ataupun tidak, tampaknya telah jamak ditemukan di masyarakat.

Distorsi semacam ini juga tampak dalam pandangan mengenai masa kejayaan Islam yang seringkali dinilai berdasarkan kemegahan bangunan dan kemajuan fisik yang diraih oleh masyarakat muslim di masa dinasti-dinasti yang silih berganti berkuasa. Sementara itu, tiga masa pertama dan utama di dalam sejarah perkembangan Islam tidak dianggap sebagai masa kejayaan karena tidak meninggalkan kemegahan fisik apapun. Padahal, masa kenabian dan masa sahabat, masa tabi’in, serta masa tabi’uttabi’in adalah tiga masa terbaik dalam sejarah Islam, di mana pondasi peradaban Islam telah dibangun sebagai dasar yang kuat lagi kokoh untuk masa-masa selanjutnya.

Continue reading Masjid Nusantara dan Peradaban Ilmu