Masjid Nusantara dan Peradaban Ilmu

Masjid Kaliwulu, Cirebon

Peradaban adalah satu kata yang sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Begitu akrabnya dengan istilah ini, kita menggunakannya untuk berbagai maksud tanpa sempat lagi merenungi makna mendasar di balik kata peradaban. Seiring berjalannya waktu, peradaban sering kali diidentikkan dengan kemajuan dan hasil-hasil pencapaian fisik dari sebuah bangsa atau kebudayaan. Jika kita menyebutkan Peradaban Mesir, maka yang terbayang dengan segera adalah Piramida Gyza, Kuil Luxor, atau Istana Ratu Hatshepsut yang dipahat di tebing batu. Sementara itu, The Great Stupa di Sanchī dan Taj Mahal menjadi simbol peradaban India. The Forbidden City (Kota Terlarang) di Beijing dan The Great Wall menjadi penanda kemajuan peradaban China. Tak kalah megah, Acropolis di Athena dan Colosseum di Roma pun menjadi bukti kemajuan peradaban Yunani dan Romawi.

Pemahaman semacam ini dapat dimengerti, karena pencapaian-pencapaian fisik di dalam setiap peradaban memang merupakan elemen yang paling mudah dilihat dan diingat. Walaupun demikian, pemahaman tersebut sangat terbatas dalam mendefinisikan keluasan dan kedalaman makna yang dikandung oleh istilah peradaban. Pemahaman itu juga dapat menjadi permasalahan jika berimbas pada penarikan kesimpulan, bahwa bangsa atau kebudayaan yang tak meninggalkan bukti-bukti pencapaian fisik yang megah dan monumental adalah bangsa yang tak memiliki peradaban tinggi. Paham materialisme semacam ini, disadari ataupun tidak, tampaknya telah jamak ditemukan di masyarakat.

Distorsi semacam ini juga tampak dalam pandangan mengenai masa kejayaan Islam yang seringkali dinilai berdasarkan kemegahan bangunan dan kemajuan fisik yang diraih oleh masyarakat muslim di masa dinasti-dinasti yang silih berganti berkuasa. Sementara itu, tiga masa pertama dan utama di dalam sejarah perkembangan Islam tidak dianggap sebagai masa kejayaan karena tidak meninggalkan kemegahan fisik apapun. Padahal, masa kenabian dan masa sahabat, masa tabi’in, serta masa tabi’uttabi’in adalah tiga masa terbaik dalam sejarah Islam, di mana pondasi peradaban Islam telah dibangun sebagai dasar yang kuat lagi kokoh untuk masa-masa selanjutnya.

Continue reading Masjid Nusantara dan Peradaban Ilmu