Masjid Nusantara dan Peradaban Ilmu

Masjid Kaliwulu, Cirebon

Peradaban adalah satu kata yang sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Begitu akrabnya dengan istilah ini, kita menggunakannya untuk berbagai maksud tanpa sempat lagi merenungi makna mendasar di balik kata peradaban. Seiring berjalannya waktu, peradaban sering kali diidentikkan dengan kemajuan dan hasil-hasil pencapaian fisik dari sebuah bangsa atau kebudayaan. Jika kita menyebutkan Peradaban Mesir, maka yang terbayang dengan segera adalah Piramida Gyza, Kuil Luxor, atau Istana Ratu Hatshepsut yang dipahat di tebing batu. Sementara itu, The Great Stupa di Sanchī dan Taj Mahal menjadi simbol peradaban India. The Forbidden City (Kota Terlarang) di Beijing dan The Great Wall menjadi penanda kemajuan peradaban China. Tak kalah megah, Acropolis di Athena dan Colosseum di Roma pun menjadi bukti kemajuan peradaban Yunani dan Romawi.

Pemahaman semacam ini dapat dimengerti, karena pencapaian-pencapaian fisik di dalam setiap peradaban memang merupakan elemen yang paling mudah dilihat dan diingat. Walaupun demikian, pemahaman tersebut sangat terbatas dalam mendefinisikan keluasan dan kedalaman makna yang dikandung oleh istilah peradaban. Pemahaman itu juga dapat menjadi permasalahan jika berimbas pada penarikan kesimpulan, bahwa bangsa atau kebudayaan yang tak meninggalkan bukti-bukti pencapaian fisik yang megah dan monumental adalah bangsa yang tak memiliki peradaban tinggi. Paham materialisme semacam ini, disadari ataupun tidak, tampaknya telah jamak ditemukan di masyarakat.

Distorsi semacam ini juga tampak dalam pandangan mengenai masa kejayaan Islam yang seringkali dinilai berdasarkan kemegahan bangunan dan kemajuan fisik yang diraih oleh masyarakat muslim di masa dinasti-dinasti yang silih berganti berkuasa. Sementara itu, tiga masa pertama dan utama di dalam sejarah perkembangan Islam tidak dianggap sebagai masa kejayaan karena tidak meninggalkan kemegahan fisik apapun. Padahal, masa kenabian dan masa sahabat, masa tabi’in, serta masa tabi’uttabi’in adalah tiga masa terbaik dalam sejarah Islam, di mana pondasi peradaban Islam telah dibangun sebagai dasar yang kuat lagi kokoh untuk masa-masa selanjutnya.

Peradaban dalam makna yang paling mendasar, sesungguhnya bukanlah semata-mata berbentuk kemajuan atau pencapaian fisik dari sebuah bangsa atau kebudayaan. Selalu ada pemikiran, cara pandang, kepercayaan, agama, ideologi, dan keilmuan yang melatarbelakangi hasil-hasil bentukan fisik yang tampak mata itu. Bahkan hal-hal yang tak tampak di mata itulah yang justru sangat menentukan bangkit dan jatuhnya sebuah peradaban di muka bumi. Seperti dinyatakan oleh Ibnu Khaldun, tanda wujudnya peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan. Demikian pula maju dan mundurnya sebuah peradaban juga berkaitan dengan maju dan mundurnya ilmu pengetahuan[1]. Ilmu pengetahuan yang dimaksud tidak semata-mata sains dan teknologi yang lagi-lagi berujung pada berbagai pencapaian fisik di dalam sebuah peradaban, namun ilmu yang bermanfaat dan menyampaikan manusia pada kesadaran tentang tujuan penciptaannya dan fitrahnya sebagai makhluk ciptaan Allah swt.

Lebih jauh, Peradaban Islam berbeda secara diametral dengan peradaban-peradaban lain yang memiliki perhatian sangat besar terhadap pencapaian fisik, seperti Peradaban Mesir Kuno atau Peradaban Romawi. Menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, peradaban Islam secara konseptual merupakan gambaran internal bagaimana keimanan atau keyakinan dalam Islam yang rasional dan berdimensi ilmu itu memancarkan ilmu pengetahuan dan mengejawantah dalam bentuk amal-amal[2]. Peradaban Islam pada dasarnya adalah peradaban ilmu. Hal ini ditandai dengan berkembangnya tradisi keilmuan dan ditempatkannya ulama pada posisi yang tinggi di masyarakat. Peradaban Islam ditandai pula dengan adanya keluhuran adab dan akal-budi masyarakat muslim, yang membuat mereka mampu berbuat adil dan menempatkan segala sesuatu pada tempat yang sebenarnya. Mereka memahami pentingnya kedudukan nabi, agama, ilmu, dan ulama bagi kehidupan mereka dan berperilaku secara tepat berdasarkan pemahaman tersebut.

Peradaban Islam yang dibangun di Kota Madinah al-Munawarah adalah peradaban ilmu, walaupun bangunan-bangunan di sana pada masa itu sangat sederhana. Masjid Nabawi di awal berdirinya adalah contoh yang sangat sempurna, betapa peradaban yang tinggi dapat hidup dan berkembang di dalam bangunan-bangunan yang sederhana dan bersahaja. Dengan bentuknya yang sederhana, ruang-ruang masjid ini justru mampu mewadahi berbagai aktivitas dengan berbagai karakter yang berbeda. Di balik kesederhanaannya, Masjid Nabawi mampu menyatukan hati kaum Muhajirin dan kaum Anshar dalam berbagai aktivitas ibadah, pendidikan, dan aktivitas kemasyarakatan.

Karena itu, bangunan-bangunan megah dan monumental yang dibangun di masa-masa yang disebut sebagai masa kejayaan Islam, bukanlah wujud hakiki dari peradaban Islam itu sendiri. Bangunan-bangunan megah itu memang memberikan gambaran dan menceritakan mengenai banyak hal, termasuk kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perkembangan seni di masa kekuasaan dinasti-dinasti tersebut. Namun demikian, bangunan-bangunan itu sekaligus menggambarkan pula kenyataan getir bahwa di akhir masa kejayaan itu, sebagian kaum muslim beserta para penguasanya telah cukup jauh dari esensi peradaban Islam dengan bermegah-megahan dan berlebih-lebihan mengejar dunia. Hal inilah yang pada akhirnya menyebabkan runtuhnya peradaban mereka, walaupun bangunan-bangunan megah yang mereka hasilkan masih berdiri tegak hingga saat ini.

Sesungguhnya, walaupun tidak selalu meninggalkan jejak fisik berupa bangunan yang megah dan monumental, sejarah telah menunjukkan bahwa peradaban Islam juga berkembang di berbagai wilayah lain di muka bumi. Wilayah Nusantara adalah salah satu wilayah terbesar yang menjadi bukti perkembangan peradaban Islam selama beratus tahun sejak masa awal masuk dan diterimanya Islam secara damai, masa berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam dan internalisasi pandangan alam Islam ke dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat muslim, hingga masa pendudukan kolonial dengan segala daya upayanya menjauhkan kaum muslim di Nusantara dari Islam.

Jika kita mencermati bagaimanakah hasil bentukan fisik peradaban Islam di Nusantara, maka perhatian kita akan dengan mudah jatuh pada bangunan masjid yang telah banyak didirikan sejak awal diterimanya Islam di wilayah ini. Walaupun demikian, adanya perbedaan konteks waktu, tempat, dan situasi sosial-politis dengan wilayah-wilayah muslim di Turki, Andalusia, Mesir, Irak, dan sebagainya, menjadikan masjid-masjid di berbagai wilayah di Nusantara memiliki karakteristiknya sendiri dengan kebersahajaan yang sangat berbeda dengan kemegahan dan monumentalitas masjid-masjid di Turki, Andalusia, Timur Tengah, dan Afrika Utara pada masa itu.

Sayangnya, tidak banyak jejak fisik dan penulisan tentang arsitektur masjid pada masa-masa awal masuk dan diterimanya Islam di Nusantara. Beberapa deskripsi yang terbatas tentang arsitektur masjid di Nusantara juga tidak menceritakan masjid-masjid di masa awal masuknya Islam. Deskripsi tentang masjid-masjid di Nusantara lebih banyak menceritakan tentang keberadaan masjid-masjid di masa menjelang dan selama pendudukan kolonial Belanda. Hal ini dikarenakan Belanda memang terbiasa melakukan berbagai pencatatan mengenai segala hal yang terdapat di wilayah jajahannya. Segala hal yang menarik perhatian dan dianggap penting dicatat dan disimpan sebagai arsip pribadi atau arsip pemerintah.

Bagaimanapun, deskripsi-deskripsi ini menurut Kees van Dijk, seringkali tidak memberikan gambaran yang sempurna[3]. Ketidaksempurnaan ini, setidaknya disebabkan oleh tiga hal. Pertama, ada hal-hal lain yang lebih menarik bagi para penulis ini dibandingkan arsitektur masjid yang tampaknya terlalu sederhana di mata Eropa mereka. Penggambaran mereka tentang alam, kehidupan kota pesisir, dan keberadaan bazar, menurut van Dijk, jauh lebih rinci daripada deskripsi mereka tentang masjid.

Jika dibandingkan dengan arsitektur gereja-gereja Gotik atau Renaisans di Eropa yang diklasifikasikan sebagai high-style architecture dengan kemegahan dan kekayaan ornamentasinya, arsitektur masjid di Nusantara memang tampak sangat bersahaja dengan skala yang manusiawi, walaupun memiliki ukuran ruang yang cukup luas. Beberapa masjid utama yang disebutkan menjadi monumen yang menunjukkan kekuasaan kesultanan dan kemuliaan Islam, seperti Masjid Banten, Masjid Demak, dan Masjid Kudus, juga tidak menunjukkan skala bangunan yang sangat monumental terhadap lingkungan permukiman di sekelilingnya. Demikian pula masjid-masjid agung yang terletak di pusat kota dan dekat dengan kraton, seperti Masjid Agung Yogyakarta dan Masjid Agung Surakarta.

Kedua, gambaran tentang masjid yang dibuat berdasarkan deskripsi terbatas ini sering kali juga bercampur aduk dengan imajinasi dan latar belakang budaya Eropa para pelukisnya. Mereka memiliki kecenderungan untuk menambahkan unsur-unsur klasik Eropa ketika mencoba menggambarkan realitas di dunia Timur.[4] Hal ini dapat dimengerti, karena pandangan alam Barat yang memiliki standar-standar estetika dan etika tertentu seringkali digunakan secara sadar ataupun tidak sadar untuk menilai etika dan estetika Dunia Timur yang berbeda dengan mereka. Di dalam pandangan Barat yang sangat memuja estetika dalam berarsitektur tentu tidak mudah memahami mengapa sebuah tempat ibadah yang merupakan “rumah Tuhan” dapat tampil dalam bentuk bangunan sederhana semi-permanen dari kayu atau bambu, tanpa dilengkapi perabot mahal dan hiasan di ruang dalamnya. Van Dijk mengutip pernyataan Valentijn, “tak ada yang harus dilihat selain tikar untuk duduk, dan sebuah rumah-rumahan kecil bertutup linen, tempat imam duduk.”[5]

Ketiga, pihak kolonial memiliki kecenderungan untuk “menyembunyikan” Islam dan lebih mengedepankan tradisi, termasuk ketika membahas tentang masjid.[6] Keberpihakan ini dapat dipahami sebagai bagian dari strategi kaum kolonial untuk mewujudkan misi Gold, Gospel, and Glory di wilayah jajahannya.

Di lain pihak, berbagai cerita dan deskripsi tentang masjid-masjid bersejarah di masyarakat lebih banyak berupa tradisi lisan.[7] Penyebarluasan cerita secara turun-temurun lewat tradisi lisan ini salah satunya adalah cerita tentang pendirian Masjid Demak oleh para wali dalam waktu semalam saja. Selain cerita-cerita lisan itu, ada pula sedikit cerita tertulis yang berasal dari Babad Tanah Jawa yang menceritakan tentang pembangunan Masjid Demak setelah keruntuhan Majapahit.[8] Menurut Kees Van Dijk, cerita-cerita itu diteruskan dari generasi ke generasi untuk menunjukkan kedudukan yang tinggi dari para wali.[9]

Faktor lain yang juga menyebabkan terbatasnya jejak fisik dan deskripsi tentang masjid di awal-awal masuknya Islam di Nusantara adalah material dan konstruksi bangunan masjid yang sebagian besar menggunakan kayu dengan daya tahan yang lebih terbatas bila dibandingkan dengan material batu. Tidak seperti masjid-masjid kontemporer yang monumental, tampaknya masjid-masjid di masa awal masuknya Islam di Nusantara memang tidak dipersiapkan untuk menjadi monumen atau saksi bisu kejayaan Islam bagi masa beratus-ratus tahun setelahnya. Masjid-masjid dibangun berdasarkan kebutuhan untuk beribadah dan memberikan pengajaran tentang Islam, dengan kosa kata bentuk arsitektur dan material setempat yang telah dikenal dan digunakan secara luas di masyarakat pada masa itu.

Pada masa-masa selanjutnya, terutama selama pendudukan kolonial dan setelah kemerdekaan, kecenderungan untuk membangun masjid-masjid yang megah dan monumental mulai bermunculan. Beberapa masjid sengaja dibangun dengan ukuran yang monumental untuk menyampaikan pesan politis tertentu. Salah satu masjid dengan skala monumental adalah Masjid Raya Baiturrahman di Aceh yang justru dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda. Belanda membangun kembali masjid ini pada tahun 1877 setelah masjid asli mereka hancurkan untuk menguasai Kesultanan Aceh.[10] Selain ukuran bangunan yang monumental, masjid ini juga dibangun dengan gaya arsitektur yang sama sekali berbeda dengan masjid asli dan masjid-masjid lainnya di Aceh. Hal ini menggambarkan keinginan yang besar dari pemerintah kolonial Belanda untuk campur tangan dan menguasai simbol-simbol masyarakat muslim di wilayah jajahannya. O’Neill memaparkan, “The palaces and mosques of the rulers of Aceh and North Sumatera are a very visible result of the craving for power of the outsiders. In some cases local rulers, under threat from the foreign traders and their colonial armies, were encourage to sign treaties that resulted in the outsiders sponsoring and assisting in the construction of these symbols of quasi-sovereignty.”[11] Senada dengan pernyataan O’Neill, menurut van Dijk, Masjid Raya Baiturrahman dirancang sebagai ungkapan kemurahan hati pemerintah kolonial kepada rakyat dan kesultanan Aceh.[12] Dengan demikian, kemegahan arsitektur masjid di masa-masa itu bukanlah simbol dari kejayaan peradaban Islam itu sendiri. Masjid-masjid monumental, terutama yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda, lebih merupakan penanda adanya penetrasi cara pandang dan ideologi kaum kolonial yang materialistis ke dalam peradaban Islam di Nusantara.

Di luar kasus-kasus tersebut, banyak masjid di Indonesia pada masa itu memiliki bentuk yang sederhana bahkan sangat sederhana.[13] Menurut Bambang Setia Budi, selain masjid agung dan masjid kraton, mayoritas masjid pada masa kesultanan justru merupakan masjid lingkungan atau community mosques yang terletak di tengah-tengah permukiman masyarakat muslim.[14] Di dalam penelitian tentang pesantren-pesantren besar dan tua di Jawa, Bambang Triyoga juga menyebutkan, “Dalam sejarah pendirian pesantren-pesantren di Jawa selalu dikisahkan bahwa masjid, yang pada periode awal masih berupa mushola, ketika didirikan merupakan bangunan yang sangat sederhana dan tidak permanen, berupa bangunan panggung yang terbuat dari kayu atau bambu.”[15]

Dengan segala keterbatasan untuk menghadirkan jejak fisik peradaban Islam di Nusantara dalam bentuk yang monumental seperti yang ditinggalkan oleh peradaban Majapahit maupun Sriwijaya, tidaklah lantas dapat dikatakan bahwa kaum muslim Nusantara tidak memiliki peradaban yang tinggi. Seperti telah dipaparkan sebelumnya, peradaban Islam terutama adalah peradaban ilmu. Kesederhanaan yang ditampilkan sebagian besar masjid di Nusantara bukanlah dikarenakan ketidakmampuan membangun bangunan yang megah dan monumental. Kesultanan-kesultanan Islam yang ada di nusantara memiliki peran penting dalam perekonomian dan perdagangan dengan berbagai wilayah di dunia.[16] Negeri muslim terbesar ini terbukti merupakan wilayah yang kaya raya sebelum masa penjajahan Belanda yang kemudian menguras sumber daya alam dan manusianya.

Di balik kesederhanaan bentuk dan skala bangunannya, masjid memiliki peran penting sebagai pusat pengajaran dan tradisi keilmuan Islam. Tradisi keilmuan ini pada gilirannya merupakan elemen yang sangat penting dalam membangun peradaban Islam. Sejak masa-masa awal masuknya Islam di Nusantara, masjid tidak hanya digunakan untuk tempat shalat berjamaah. Menurut Kees van Dijk, masjid juga merupakan tempat pengajaran agama Islam.[17] Van Dijk menceritakan bahwa seorang Belanda yang mengunjungi Banten pada tahun 1596 telah mengamati bahwa orang-orang mendapatkan ajaran Islam di masjid.[18] Pendhapa yang menjadi ciri khas masjid-masjid agung di Jawa merupakan bangunan multifungsi yang hingga saat ini masih banyak digunakan sebagai tempat pengajaran Islam dan pendidikan al-Qur’an. Serambi masjid digunakan sebagai tempat bermusyawarah, bersilaturahmi, dan belajar. Dalam kisah-kisah tentang awal pendirian pesantren-pesantren di Jawa, serambi ini bahkan digunakan sebagai tempat tidur bagi para santri yang tak medapat tempat di asrama.[19] Di Malaka dan Sumatera, surau dan masjid merupakan tempat mengajarkan dan mengembangkan syiar Islam. Bahkan sultan dan para pejabatnya senantiasa menunaikan shalat tarawih di masjid pada bulan Ramadhan sebagai bagian dari syiar Islam kepada masyarakatnya.[20]

Dalam tradisi pesantren di Nusantara, para kyai pendirinya selalu membangun masjid terlebih dahulu, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw ketika membangun Madinah. Tradisi ini juga dijalankan oleh para wali saat mendirikan Kota Demak.[21] Melalui masjid pesantren, para kyai pendahulu menyampaikan ajaran Islam dari al-Qur’an, Hadits, dan kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Pada pesantren salafiyyah, hingga saat ini masjid tetap digunakan untuk tradisi pembelajaran yang dikenal dengan nama bandongan. Para kyai membacakan dan mengajarkan kitab sesuai dengan apa yang tertulis dan pernah diterimanya, sebagai cara penyampaian sekaligus penjagaan kemurnian ilmu, dengan kyai sebagai mata rantai transmisi ilmu yang diajarkan. Pesantren-pesantren salafiyyah ini secara konsisten menggunakan masjid sebagai pusat pengajaran kitab-kitab klasik, selain sebagai tempat shalat berjamaah lima waktu dan shalat Jum’at bagi seluruh santrinya.[22]

Selain menjadi pusat pengajaran dan pengembangan tradisi keilmuan Islam, masjid-masjid tersebut juga memberikan pengajaran tentang nilai-nilai Islam melalui arsitekturnya yang terbuka dan mudah didatangi oleh masyarakat di sekitarnya. Masjid-masjid terletak berdampingan dengan lingkungan permukiman di sekitarnya, terkadang tanpa batas fisik yang ditandai dengan jelas. Jika terdapat pagar pembatas pun, terkadang tidak terlampau tinggi sehingga masjid dapat tetap terlihat dari jarak yang cukup jauh sebagai bagian dari strategi syiar Islam.

Selain itu, terdapat pula adaptasi dan pemaknaan kembali kosa kata bentuk arsitektural setempat yang telah akrab di masyarakat dilakukan agar masyarakat tidak merasa di dunia asing ketika sedang berada di masjid, sekaligus memberikan pembelajaran secara halus tentang nilai-nilai Islam, misalnya melalui penggunaan ragam hias setempat yang dikombinasi dengan kaligrafi ayat-ayat al-Qur’an. Pengajaran tentang Islam melalui inskripsi-inskripsi kaligrafi yang terdapat di masjid juga merupakan salah satu strategi para kyai dan ulama pendiri masjid untuk mendidik dan memberikan pemahaman mengenai akidah ahlussunnah wal jama’ah di Nusantara. Di banyak masjid di nusantara dapat dengan mudah kita temukan berbagai inskripsi “Allah”, “Muhammad”, Syahadatain, Asmaul Husna, nama-nama Khulafaur Rasyidin, serta berbagai ayat al-Qur’an yang menjadi ornamen di dinding-dinding dan pintu masjid. Selain memberikan pemahaman tentang akidah, keberadaan ragam hias dan kaligrafi ini juga memberikan pembelajaran tentang nilai keindahan di dalam Islam yang selalu terikat erat dengan pertimbangan akan kemanfaatan dan kemudharatan yang terkandung di dalam suatu hal. Tidaklah dapat dikatakan indah segala sesuatu yang mengandung mudharat, walaupun secara fisik tampak enak dipandang dan memuaskan mata. Sebaliknya, sesuatu yang secara fisik tampak sederhana pun dapat memancarkan keindahan jika ia memberikan manfaat dan tidak mengandung mudharat.

Demikianlah, di balik kesederhanaan dan kebersahajaan masjid-masjid yang tersebar di nusantara, kita dapat memperoleh sangat banyak pelajaran berharga tentang tradisi ilmu dan peradaban Islam yang berkembang selama berabad-abad. Ketiadaan jejak fisik berupa bangunan-bangunan semonumental Candi Borobudur, Piramida Gyza, Colosseum Roma, ataupun Acropolis Yunani, bukanlah tanda rendahnya peradaban Islam di Nusantara. Masih banyak jejak fisik lain seperti ribuan kitab karya Ulama’ Nusantara, seperti Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Nuruddin ar-Raniri, dan Syekh Syamsuddin Sumatrani. Selain itu, tradisi keilmuan yang berkembang di masjid-masjid dan pesantren-pesantren juga menjadi tanda wujudnya peradaban Islam di Nusantara. Satu pertanyaan penting untuk menutup pembahasan ini adalah, bagaimana kisah-kisah tentang kemajuan peradaban Islam di masa lalu ini dapat menjadi refleksi diri kita sebagai kaum muslim yang meneruskan jejak Islam di Nusantara?

Artikel dimuat di Islamia: Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam. Volume X No. 1 Januari 2016, pp. 68-73

[1] Zarkasyi, Hamid Fahmy. 2011. Worldview Islam Asas Peradaban. Jakarta: Penerbit INSISTS. hal. 27

[2] Zarkasyi, Hamid Fahmy. hal. 12

[3] van Dijk, Kees. 2009. “Perubahan Kontur Masjid”, dalam Nas, Peter JM & de Vletter, Martien (eds.). 2009. Masa Lalu dalam Masa Kini Arsitektur di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. hal. 49

[4] van Dijk, Kees. hal. 50

[5] van Dijk, Kees, hal. 52

[6] van Dijk, Kees, hal. 50

[7] Budi, Bambang Setia. 2005. A Study on the History and Development of the Javanese Mosque Part 2: The Historical Setting and Role of the Javanese Mosque under the Sultanates, dalam Journal of Asian Architecture and Building Engineering, Vol. 4 No. 1 May 2005, hal. 1-8

[8] van Dijk, Kees. hal. 53

[9] van Dijk, Kees, hal. 56

[10] O’Neill, Hugh. 2000. Diadem or Dome: Sovereignty and Transformation of the Mosque in Sumatera. Proceedings of Tectonic Dimension in Islamic Architectural Tradition in Indonesia, 3rd International Symposium on Islamic Expression in Indonesian Architecture. Yogyakarta: August 19, 2000. hal. 22

[11] O’Neill, Hugh. hal. 18

[12] Van Dijk, Kees. hal. 69

[13] van Dijk, Kees. hal. 52

[14] Budi, Bambang Setia. hal. 6

[15] Triyoga, Bambang. 2010. Perubahan Pola Organisasi Spasial Pesantren Besar di Pulau Jawa Periode 1900-2007. Laporan Disertasi Tidak Diterbitkan. Bandung: Institut Teknologi Bandung. hal. 243

[16] Darmawijaya. 2010. Kesultanan Islam Nusantara. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. hal. vii

[17] van Dijk, Kees. hal. 49

[18] De Graaf dalam Kees, van Dijk. hal. 62

[19] Triyoga, Bambang. hal. 244

[20] Mohd. Jamil dalam Darmawijaya. hal 11

[21] Triyoga, Bambang. hal. 276

[22] Triyoga, Bambang. hal. 270

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *