Sedikit tentang konsep seni islami dan operasionalisasinya dalam arsitektur

Al-Faruqi menyebutkan enam karakteristik seni islami: abstraksi, struktur modular, kombinasi suksesif, repetisi, dinamisme, dan kompleksitas. Beliau menyimpulkan karakteristik2 tersebut setelah melakukan studi ekstensif thd hasil2 kesenian di berbagai wilayah muslim. Dan karakteristik2 tersebut pada derajat tertentu menurut beliau memang mengejewantahkan pandangan hidup kaum muslim.

Apa yang sering keliru kita tangkap adalah kita menangkap sebatas bentuk fisiknya, sehingga kita beranggapan jika tidak mengandung keenam ciri tersebut, misalnya tak ada repetisi, maka tidak islami. Padahal, bukan demikian yang dimaksudkan. Repetisi mengejewantahkan prinsip keteraturan, ketertiban, namun keteraturan tidak hanya dapat direpresentasikan melalui repetisi. Satu prinsip pada tataran konseptual dapat diwujudkan dengan berbagai cara pada tataran operasional.

Selanjutnya, kita juga senang mengambil mentah2 bentuk2 fisik tersebut, tanpa berupaya mengembangkan bentuk2 baru berdasarkan karakter atau prinsip yang sama. Inilah salah satu penyebab sebuah aliran seni menjadi kurang berkembang setelah masa kejayaannya.

Selebihnya, kita sering lupa bahwa batik, ukiran, pahatan dan bentuk2 seni setempat juga dapat mengandung prinsip yang islami, dan untuk itu bisa kita kembangkan dan kolaborasikan dengan bentuk2 lain seni islami yang telah dikenal luas. Dikombinasikan, bukan dipertentangkan. Seperti beberapa masjid wali yang menanam keramik dari China di dinding2nya, kombinasi unsur setempat dan unsur eksternal memperkaya arsitektur masjid.

Adanya kelapangan, keseimbangan, fleksibilitas dalam permasalahan2 duniawi tanpa melanggar prinsip2 yang asasi sesungguhnya membuka ruang pengembangan yang sangat besar bagi seni islami. Lagipula, kreativitas adalah kemampuan berbuat di tengah batasan, bukan tanpa batasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *