Arsitektur, antara kreativitas dan batasan

“Bu, kenapa sih, seni itu harus dibatasi? Kan kita jadi nggak bisa kreatif mengeluarkan ide-ide kita?” tanya seorang mahasiswa dengan nada sedikit memprotes, ”Padahal sebagai calon arsitek kita harus kreatif kan? Kalo dibatas-batasi, gimana karya kita bisa bagus jadinya??” lanjutnya lagi.

Saat itu, topik pembahasan ’Arsitektur dan Kebudayaan’ yang disampaikan di perkuliahan rupanya berkembang menjadi diskusi yang cukup hangat antara saya dan para mahasiswa. Banyak hal kami bahas, terutama mengenai keterkaitan peradaban dan arsitektur, perbedaan filosofi Timur dan Barat, perkembangan worldview bangsa-bangsa di dunia, sampai pada keterkaitan dan jalinan empat instrumen dalam diri manusia (iman, akal, rasa dan hati) untuk memahami kebenaran. Saya jelaskan bahwa keilmuan, apapun bentuknya, tidak dapat benar-benar terlepas dari iman dan etika, juga estetika, walaupun instrumen utama yang banyak digunakan dalam keilmuan manusia adalah akal. Karenanya, saat ini muncul ilmu bioetika dan sejenisnya yang mengkaji keterkaitan ilmu dan etika. Begitu pula dengan seni yang tidak dapat bergerak semaunya tanpa batasan etika, seperti yang akhir-akhir ini ramai dibahas di media massa. Saat itulah tercetus pertanyaan spontan dari salah satu mahasiswa yang cukup aktif dan kritis sepanjang perkuliahan.

Sambil berusaha mencari jawaban yang cukup sederhana dan dapat mengena ke dalam alur logika mereka, saya merasakan hal ini cukup sensitif, karena ketidakmampuan atau kesalahan saya dalam menjawab akan berakibat cukup fatal bagi si penanya, juga bagi mahasiswa lainnya.

”Sekarang saya beri kalian satu tugas, tolong kalian kerjakan,” kata saya akhirnya. ”Kalian saya beri tugas merancang apa saja, di mana saja, kapan saja, bagaimanapun bentuknya, berapa saja, dan dikumpulkan terserah saja,” kata saya sambil tersenyum melihat banyak dari mereka bengong dengan tugas aneh tersebut. Setelah beberapa detik dalam kesunyian, akhirnya salah satu dari mereka dengan cukup kocak memecahkan keheningan dengan berkata, ”Waah, bingung lah Bu, tugas kok bebas banget kaya’ gitu?? Lah, terus kita harus merancang apa? Ruangannya apa-apa aja? Kok nggak ada keterangan lokasi, luas lahan dan objek perancangannya Bu??”

Sambil menahan tawa, saya berkata, ”Ooo, jadi kalian minta batasan yaa?”. Ketika menyapukan pandangan ke seluruh mahasiswa, saya menangkap beberapa di antara mereka telah mengerti dengan alur logika yang saya tawarkan pada mereka, namun beberapa lainnya tampaknya memerlukan pembahasan lebih jauh akan hal ini.

Setelah itu, diterangkanlah kepada mereka bahwa batasan tidak bermakna negatif dalam kreativitas dan seni. Batasan justru kita butuhkan untuk menguji kreativitas berbuat dan berkarya di dalam koridor tertentu. ”Creativity is how we manage things in constraints”, kata Prof. Sandi A. Siregar, Guru Besar Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan Bandung, dalam acara Workshop Kurikulum Jurusan Teknik Arsitektur UIN Malang, akhir Maret 2007 lalu. Apakah batasan merupakan wujud pengekangan kreativitas? Tentu saja tidak. Seseorang dianggap kreatif jika mampu berbuat sesuatu di dalam batasan yang ada. Jika ia mampu berbuat sesuatu dengan kebebasan yang mutlak, maka itu biasa saja namanya.

Seperti halnya ilmu yang tidak bebas nilai, begitu pula halnya seni. Sebagai contoh, dalam pandangan ilmu, tidak ada yang salah jika seorang peneliti hendak meneliti aktivitas manusia di dalam kamar mandi. Ilmu ini tentu saja bermanfaat untuk merancang kamar mandi yang sesuai dengan aktivitas manusia di dalamnya. Walaupun demikian, dari sudut pandang etika, jika kita meneliti dengan cara memasang kamera tersembunyi (karena pasti sangat sulit menemukan sampel penelitian yang dengan sukarela mempertontonkan aktivitasnya itu di depan kamera, kan?), tentu saja hal ini tidak dapat dibenarkan. Lalu di mana letak kreativitasnya? Dalam hal ini, batasan etika berfungsi memacu akal untuk mengeksplorasi cara dan kemungkinan yang lebih baik dalam melakukan penelitian, misalnya dengan simulasi komputer berdasarkan data-data ergonomi dan hasil wawancara dengan sampel penelitian. Di sinilah kreativitas dibutuhkan, ia adalah kemampuan manusia untuk tetap dapat berbuat sesuatu di tengah batasan, dengan tidak melanggar batasan-batasan itu.

Melihat kembali ke sejarah masa lalu, terdapat contoh yang sesuai dengan ini. Dalam perkembangan arsitektur muslim di berbagai wilayah di dunia, adanya batasan di dalam Islam untuk tidak menggambarkan figur manusia atau hewan secara naturalistik, terlepas dari adanya perbedaan pendapat mengenai hal ini, ternyata ditanggapi secara positif oleh para seniman dan arsitek muslim di awal perkembangan peradaban Islam. Bahkan interpretasi paling literal dari batasan ini pun menghasilkan karya-karya seni yang indah dan berkarakter.

Dengan eksplorasi kreativitas yang intensif di dalam koridor nilai-nilai Islam, para seniman Muslim justru berhasil mengembangkan suatu ragam seni dekorasi tersendiri yang sangat unik dan estetik. Salah satunya adalah struktur arabesque, atau pola dekoratif tak terbatas dengan tingkat kerumitan dan keindahan yang sangat tinggi, bahkan memiliki nilai plus dalam kandungan makna dan nilai yang berkaitan dengan nilai-nilai ketauhidan. Selain itu, terdapat banyak sekali contoh-contoh ornamentasi yang sangat kaya akan keberagaman, karya para seniman muslim di berbagai wilayah dan masa.

Sebagai penutup, ”Jika seorang pemain sepakbola dapat memasukkan gol ke gawang yang tidak dijaga, di dalam suatu permainan yang tidak diawasi oleh wasit, dan tidak diimbangi dengan lawan main sejumlah 11 orang, apakah ia bisa dianggap hebat?” saya kutiplah pertanyaan yang pernah terbaca di salah satu majalah. ”Tidak, kan? Ia hanya akan dianggap hebat jika ia mampu membuat gol di tengah pertandingan yang dibatasi oleh waktu yang sempit, peraturan yang mengikat, pengawasan wasit yang ketat, serta dengan lawan main yang seimbang.”

Paper lengkap tentang kreativitas dan batasan dalam perspektif arsitektur islami:

https://www.researchgate.net/publication/339768660_Creativity_in_the_Perspective_of_Islamic_Architecture

There are at least three lessons that can be summarized from the discussion above. Firstly, architects and artists need constraints and limitations within their designs to ascertain their creativity level. An architect or an artist will be considered creative when he or she is able to create an excellent art, or an excellent architectural object, in the context of the existing constraints. A simple example of this is a football game that could only be regarded as entertaining and interesting when it is regulated by its rules, fair referees, allocated time, and the skills of players. Thus, creativity is not stifled by constraints; instead, it is spurred by them.

Secondly, a positive viewpoint about any constraints could enhance a designer’s creativity level. This lesson is closely related to the fact that our mindsets influence the way we act or behave. Since creativity is not merely an ability to create some ‘eye-catching’ forms, the chance of gaining creativity is wide-opened to all of us who have a positive point of view regarding any constraints in any circumstances of design.

Thirdly, if we look further, any constraints, in fact, play an important role in generating the uniqueness of each design. As an example, constraints in Islamic architecture, as explained above, make it different from other schools of architecture. The same condition applies to almost all circumstances of design. Constraints could come out as site specifics, local climates, economic conditions, building technologies and materials, etc. It provides a great opportunity for architects to create ingenious and honorable architectural designs. At this level, we can conclude that the richness of architecture is, more or less, due to these constraints.

Finally, we can conclude that both creativity and constraints are very important in the world of design. They are not at odds with each other; instead, they work together to promote us, architects or artists, as the real winners through our responsible qualified designs. It depends on the architects and artists themselves now, whether they will use that opportunity and deal positively with constraints, or they will squander it by perceiving constraints as a setback and a hindrance to creativity.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *