Arsitektur, antara kreativitas dan batasan

“Bu, kenapa sih, seni itu harus dibatasi? Kan kita jadi nggak bisa kreatif mengeluarkan ide-ide kita?” tanya seorang mahasiswa dengan nada sedikit memprotes, ”Padahal sebagai calon arsitek kita harus kreatif kan? Kalo dibatas-batasi, gimana karya kita bisa bagus jadinya??” lanjutnya lagi.

Saat itu, topik pembahasan ’Arsitektur dan Kebudayaan’ yang disampaikan di perkuliahan rupanya berkembang menjadi diskusi yang cukup hangat antara saya dan para mahasiswa. Banyak hal kami bahas, terutama mengenai keterkaitan peradaban dan arsitektur, perbedaan filosofi Timur dan Barat, perkembangan worldview bangsa-bangsa di dunia, sampai pada keterkaitan dan jalinan empat instrumen dalam diri manusia (iman, akal, rasa dan hati) untuk memahami kebenaran. Saya jelaskan bahwa keilmuan, apapun bentuknya, tidak dapat benar-benar terlepas dari iman dan etika, juga estetika, walaupun instrumen utama yang banyak digunakan dalam keilmuan manusia adalah akal. Karenanya, saat ini muncul ilmu bioetika dan sejenisnya yang mengkaji keterkaitan ilmu dan etika. Begitu pula dengan seni yang tidak dapat bergerak semaunya tanpa batasan etika, seperti yang akhir-akhir ini ramai dibahas di media massa. Saat itulah tercetus pertanyaan spontan dari salah satu mahasiswa yang cukup aktif dan kritis sepanjang perkuliahan.

Continue reading Arsitektur, antara kreativitas dan batasan