Arsitektur dan Preservasi Memori dalam Museum dan Memorial

Kasus: Memorial dan Museum Holocaust

Di tengah kontroversi yang terjadi di dunia mengenai valid tidaknya peristiwa Holocaust yang menimpa bangsa Yahudi, mereka memandang bahwa pemeliharaan terhadap keberlanjutan memori kolektif akan peristiwa itu di dalam hati dan pikiran masyarakat Yahudi generasi selanjutnya sangat penting. Hal ini menjadi sangat urgen bagi keberlanjutan usaha mendirikan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina. Pemeliharaan memori tentang Holocaust lebih dari sebuah penghargaan dan peringatan yang ditujukan bagi para korban Holocaust itu sendiri. Secara sangat eksplisit usaha ini bertujuan untuk menjaga Holocaust agar tetap hidup, sebagai bagian penting dari narasi tentang sebuah negara yang bernama Israel.

Salah satu cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan untuk menjaga kesinambungan memori kolektif akan peristiwa Holocaust itu adalah dengan pendirian banyak memorial dan museum di banyak negara. Salah satu dari kompleks bangunan yang didirikan dengan tujuan ini adalah Yad Vashem, sebuah Otoritas Peringatan bagi para pahlawan dan korban peristiwa Holocaust yang didirikan di tahun 1953 oleh Parlemen Israel untuk memperingati peristiwa pembunuhan bangsa Yahudi oleh Nazi.

Dalam bagian pembahasan, penulis memaparkan secara singkat peristiwa Holocaust dan bagaimana pengaruhnya terhadap berdirinya negara Israel di Palestina. Pembahasan singkat ini menjelaskan apa yang menjadi latar belakang pentingnya pemeliharaan memori mengenai peristiwa ini bagi bangsa Israel, yang dihadirkan, salah satunya dalam bentuk arsitektur. Pembahasan selanjutnya lebih memperinci tentang bagaimana memori tentang peristiwa itu diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk arsitektural.

Bagian akhir kajian berisi kesimpulan singkat mengenai usaha penerjemahan, pembangkitan dan pemeliharaan memori tentang Holocaust di dalam kompleks bangunan Yad Vashem, Yerusalem. Kedua obyek arsitektural yang telah dipaparkan dalam bagian sebelumnya, the Valley of the Community dan the International School for Holocaust Studies merepresentasikan sebuah peristiwa yang sama dengan persepsi yang berbeda. Perbedaan tampak pada tingkatan makna yang digunakan untuk menghadirkan memori kolektif di dalam benak pengunjungnya. Namun demikian, keduanya sama-sama menunjukkan arti penting arsitektur sebagai pemberi bentuk bagi sebuah narasi sejarah yang sangat mungkin dilupakan oleh generasi selanjutnya, akibat keterbatasan memori dan jauhnya jarak waktu dan geografis yang terbentang dengan peristiwa sebenarnya.

Sedikit tentang konsep seni islami dan operasionalisasinya dalam arsitektur

Al-Faruqi menyebutkan enam karakteristik seni islami: abstraksi, struktur modular, kombinasi suksesif, repetisi, dinamisme, dan kompleksitas. Beliau menyimpulkan karakteristik2 tersebut setelah melakukan studi ekstensif thd hasil2 kesenian di berbagai wilayah muslim. Dan karakteristik2 tersebut pada derajat tertentu menurut beliau memang mengejewantahkan pandangan hidup kaum muslim.

Apa yang sering keliru kita tangkap adalah kita menangkap sebatas bentuk fisiknya, sehingga kita beranggapan jika tidak mengandung keenam ciri tersebut, misalnya tak ada repetisi, maka tidak islami. Padahal, bukan demikian yang dimaksudkan. Repetisi mengejewantahkan prinsip keteraturan, ketertiban, namun keteraturan tidak hanya dapat direpresentasikan melalui repetisi. Satu prinsip pada tataran konseptual dapat diwujudkan dengan berbagai cara pada tataran operasional.

Selanjutnya, kita juga senang mengambil mentah2 bentuk2 fisik tersebut, tanpa berupaya mengembangkan bentuk2 baru berdasarkan karakter atau prinsip yang sama. Inilah salah satu penyebab sebuah aliran seni menjadi kurang berkembang setelah masa kejayaannya.

Selebihnya, kita sering lupa bahwa batik, ukiran, pahatan dan bentuk2 seni setempat juga dapat mengandung prinsip yang islami, dan untuk itu bisa kita kembangkan dan kolaborasikan dengan bentuk2 lain seni islami yang telah dikenal luas. Dikombinasikan, bukan dipertentangkan. Seperti beberapa masjid wali yang menanam keramik dari China di dinding2nya, kombinasi unsur setempat dan unsur eksternal memperkaya arsitektur masjid.

Adanya kelapangan, keseimbangan, fleksibilitas dalam permasalahan2 duniawi tanpa melanggar prinsip2 yang asasi sesungguhnya membuka ruang pengembangan yang sangat besar bagi seni islami. Lagipula, kreativitas adalah kemampuan berbuat di tengah batasan, bukan tanpa batasan.

kenapa DAI?

Kenapa mata kuliah inti (core) di Arsitektur UIN Maliki dinamai “Desain Arsitektur Islami”?

Pertama, jelas kami tidak mengajarkan mendesain rumah bordil, klub malam, dan sejenisnya.

Kedua, karena nilai-nilai Islam itu komprehensif, menyeluruh, dan tinggi. Sebagai sebuah pendekatan rancang, ia perlu dinyatakan. Sama seperti “green architecture”, “inclusive architecture”, dll yang menyatakan dirinya tanpa inferiority complex.

Karena sebagai value-based design (bukan style-based design), desain arsitektur islami mungkin punya irisan dan kemiripan dengan pendekatan-pendekatan desain yang lain, tapi tetap punya perbedaan-perbedaan mendasar yang penting untuk disadari. Misalnya, “green” tak selalu islami kalau tak mempertimbangkan interaksi dengan tetangga, atau “inclusive” tak selalu islami kalau tak mengenal batasan privasi. Karena itu, nilai-nilai Islam hadir sebagai inspirasi yg dapat dikombinasikan dengan pendekatan-pendekatan lain, sekaligus sebagai filter dan koridor untuk aspek-aspek rancangan yang kurang sesuai atau kurang dipertimbangkan di dalam pendekatan yg lain.

Lagi pula, kita punya khasanah keilmuan Islam, seperti ilmu Fikih, ilmu Kalam, ilmu Tasawuf, ilmu Ushul Fikih, ilmu-ilmu al-Qur’an, dsb yang sangat kaya sebagai inspirasi sekaligus koridor dalam berbagai aspek desain.

Ketiga, desain arsitektur islami disingkat DAI, intinya kami ingin para arsitek muslim jadi da’i yang berdakwah lewat karya #hasik

kenapa hand drawing?

kenapa hand drawing diajarkan sebelum komputasi arsitektur?

hand drawing menghubungkan tangan tidak hanya dengan otak, tetapi juga dengan hati.. ia mengajarkanmu kesabaran, bukan hanya kemudahan…

hand drawing mengajarkanmu kejujuran dan keistimewaan, karena karakteristik tarikan setiap garismu berbeda dengan kawan-kawanmu…

hand drawing mengajarkanmu ketekunan dan kecermatan, karena kekeliruan setarik garis tak mudah dihapus hanya dengan tombol delete dan undo…

hand drawing ajarkanmu mempertimbangkan segala hal sebelum menggoreskan tinta, bahwa kekeliruan dalam hidup kadang terjadi karena keliru merencanakan…